Guru Honorer Rp300 Ribu vs Kepsek Korupsi Miliaran: Ironis Pendidikan di Tahun Politik
Uncategorized

Guru Honorer Rp300 Ribu vs Kepsek Korupsi Miliaran: Ironis Pendidikan di Tahun Politik

Gue nulis ini sambil nahan sebel.

Bukan sebel sama guru honorer. Bukan sebel sama murid. Tapi sebel sama sistem yang membiarkan satu orang hidup bergelimang harta hasil korupsi, sementara di gedung yang sama, ada guru lain yang gajinya cuma Rp300 ribu sebulan. Dan itu pun naik jadi Rp400 ribu di 2026—setelah bertahun-tahun nunggu .

Bayangin. Rp400 ribu. Buat ngajar tiap hari. Buat nyiapin materi. Buat ngeringkes administrasi. Buat ngebimbing murid. Buat jadi “orang tua” di sekolah.

Sementara di Nias Selatan, ada Kepala SMK berinisial BNW. Dia dan komplotannya—suaminya sendiri, bendahara sekolah, sama pemeriksa barang—diduga korupsi dana BOS Rp1,4 miliar . Uang yang harusnya buat buku, buat alat tulis, buat perbaikan kelas, buat operasional sekolah. Buat apa? Buat ngekaya diri sendiri.

Ini bukan cuma soal angka. Ini soal pengkhianatan.


Guru Honorer: Pahlawan dengan Gaji UMR (atau di Bawahnya)

Mari kita ngomongin realita pahit dulu.

Tahun 2026, tunjangan guru honorer naik dari Rp300 ribu jadi Rp400 ribu per bulan . Kenaikan ini diumumin Mendikdasmen Abdul Mu’ti pas Hari Guru November 2025. Disebut “kado spesial” buat guru honorer .

Kado? Serius?

Gue coba hitung. Rp400 ribu sebulan. Dibagi 30 hari, jadi Rp13.333 per hari. Kalo sehari ngajar 5 jam, berarti Rp2.666 per jam. Itu lebih murah dari biaya parkir mobil di mal.

Dan inget, itu TUNJANGAN. Bukan gaji pokok. Di beberapa daerah, gaji pokok guru honorer bisa lebih kecil dari itu. Atau bahkan nggak ada sama sekali, cuma ngandelin tunjangan.

Coba bandingin sama UMP DKI Jakarta 2026 yang sekitar Rp5,3 juta. Atau bahkan UMK terkecil di Indonesia yang masih di atas Rp2 juta. Guru honorer dapatnya seperlima belas dari UMP.

Lalu mereka diminta ngajar dengan kualitas terbaik. Diminta bikin RPP. Diminta ngurus administrasi. Diminta jadi wali kelas. Diminta jadi pembina pramuka. Diminta jadi segalanya.

Tapi digaji kayak… ya segitu.

Cerita 1: Bu Tini, 12 Tahun Honorer Belum Juga Diangkat

Bu Tini, 38 tahun. Guru honorer di sebuah SD negeri di Jawa Tengah. Udah 12 tahun ngajar. Sertifikasi? Belum. Pengangkatan PPPK? Gagal terus karena nilai saingan sama guru-guru muda yang lebih fresh.

Setiap bulan, dia bawa pulang Rp400 ribu tunjangan plus “insentif” dari sekolah yang nggak menentu. Kadang Rp200 ribu, kadang nggak sama sekali. Total pendapatan per bulan? Maksimal Rp800 ribu.

“Gue tiap hari naik motor 20 km ke sekolah. Bensin aja udah Rp15 ribu per hari. Kalo dihitung, gaji gue habis buat bensin sama jajan anak. Nggak ada sisa buat ditabung,” katanya suatu kali.

Tapi Bu Tini tetap ngajar. Karena katanya, “Kasian murid-murid kalo gue berhenti. Mereka udah nyaman sama gue.”

Ini yang bikin miris. Dedikasi dimanfaatin.

Cerita 2: Pak Rudi, Ngojek Sampingan Biar Cukup

Pak Rudi, 42 tahun, guru honorer di SMP. Punya anak dua, istri ibu rumah tangga. Tiap abis ngajar, dia langsung ganti baju, ambil motor, dan jadi driver ojek online sampai jam 9 malem.

“Alhamdulillah kadang dapet Rp50-70 ribu bersih. Lumayan buat tambah-tambah beli susu anak,” katanya sambil senyum.

Tapi capeknya? Luar biasa. Ngajar dari jam 7 pagi sampe jam 2 siang. Ngojek dari jam 3 sore sampe jam 9 malem. Besoknya bangun pagi lagi. Istirahat? Paling Sabtu-Minggu, itupun kalo lagi nggak ada rapat.

“Gue sih ikhlas. Yang penting anak gue bisa sekolah,” katanya.

Gue cuma bisa diem denger cerita dia.


Korupsi Dana BOS: Ketika Jabatan Disalahgunakan

Sekarang mari kita lihat sisi lain.

Di Nias Selatan, Sumatera Utara, ada Kepala SMK Negeri 1 Teluk Dalam berinisial BNW. Dia diduga korupsi dana BOS periode September 2023 sampai Juni 2025. Total kerugian negara? Rp1,43 miliar .

Modusnya? Sederhana tapi licin.

BNW sebagai kepala sekolah, ngarahin pengadaan barang ke toko milik suaminya sendiri, YZ . Dia bikin kebijakan pengadaan barang-barang sekolah—entah apa aja—dengan mengarahkan ke UD Delta Matius, toko milik suami.

Bendahara sekolah, HND, tahu ini nggak bener. Tapi dia tetap memproses pencairan dana. Bahkan dia bantu nyusun laporan pertanggungjawaban biar keliatan legal .

Pemeriksa barang, SH, juga ikut main. Dia nandatanganin berita acara pemeriksaan barang tanpa ngecek fisik. Jadi barang yang katanya udah dibeli dan diterima, sebenernya nggak ada .

Suami BNW, YZ, berperan nggelembungin harga (mark-up) dan bikin nota fiktif . Uang negara keluar, tapi barang nggak pernah sampe.

Ini korupsi keluarga. Rapi. Sistematis. Dan mereka lakuin dengan sadar.

Cerita 3: Murid yang Nggak Dapet Buku

Di sekolah yang sama, ada Rina, siswi kelas 11. Dia cerita ke gurunya: “Pak, kenapa tahun ini buku pelajarannya kurang? Katanya ada dana BOS, tapi kok buku nggak semua dapet?”

Gurunya cuma bisa diem. Atau paling bilang, “Nanti diusahain.”

Buku yang seharusnya dibeli pakai dana BOS, nggak pernah sampe. Alat praktik buat siswa SMK yang harusnya ada, juga nggak kelihatan. Padahal anggarannya udah keluar. Udah dicairkan. Udah dikorupsi.

Rina nggak tahu soal itu. Dia cuma tahu: bukunya kurang. Nilainya jadi jelek. Masa depannya terhambat.

Ini yang namanya kejahatan yang korbannya generasi.


Data yang Bikin Muak

Coba lo liat perbandingan sederhana ini:

  • Gaji guru honorer 2026: Rp400 ribu per bulan 
  • Korupsi satu kepala sekolah: Rp1,43 miliar 
  • Butuh berapa lama guru honorer ngumpulin uang segitu? Kalo Rp400 ribu per bulan, nggak pernah belanja, nggak pernah makan, butuh 298 tahun. Iya, tiga abad.

Dan BNW bukan satu-satunya. Di NTB, Kejaksaan Tinggi lagi mariksa sejumlah kepala SMK terkait dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus Rp42 miliar . Di situ ada pengadaan alat praktek dan peraga siswa yang nggak pernah sampe ke sekolah . Ada juga pembangunan ruang praktik siswa yang molor, dari 24 sekolah cuma 2 yang kelar tepat waktu .

Ini pola. Bukan kasus isolasi.

Korupsi Kepala Sekolah: Pengkhianatan Sosial

Gue mau bilang sesuatu.

Korupsi itu jahat. Tapi korupsi di pendidikan itu lebih dari sekadar jahat. Itu pengkhianatan sosial.

Karena uang yang dikorupsi itu bukan uang negara abstrak. Itu uang rakyat. Uang pajak. Uang yang dikumpulin dari rakyat buat masa depan rakyat. Uang itu harusnya balik ke rakyat dalam bentuk buku, alat tulis, meja kursi, ruang kelas layak.

Kalo itu dikorupsi, artinya rakyat nggak dapet apa-apa. Artinya anak-anak nggak dapet pendidikan layak. Artinya generasi mendatang dirugikan.

Dan yang paling parah: korupsi dilakukan oleh kepala sekolah. Orang yang seharusnya jadi panutan. Yang seharusnya ngajarin murid tentang kejujuran. Yang setiap upacara bendera baca teks Pancasila.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab.”
“Persatuan Indonesia.”
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Sambil baca itu, dia mungkin dalam hati mikir: “Rp1,4 miliar udah masuk rekening suami.”

Ini hipokrisi tingkat dewa.


Ironi di Tahun Politik

Gue nulis judul “di Tahun Politik” bukan tanpa alasan.

Tahun 2026 ini tahun politik. Banyak janji. Banyak program. Banyak calon yang foto di sekolah, bagi-bagi buku, janjiin kesejahteraan guru. Tapi realitanya? Guru honorer masih dibayar Rp400 ribu. Korupsi dana BOS masih terjadi. Dana DAK Rp42 miliar masih dikorupsi.

Politik itu soal prioritas. Kalo pendidikan benar-benar prioritas, seharusnya:

  1. Gaji guru honorer minimal UMR.
  2. Pengawasan dana BOS diperketat.
  3. Hukuman buat koruptor dana pendidikan diperberat.
  4. Kepala sekolah yang korupsi dipecat dengan tidak hormat.

Tapi nyatanya? Masih jauh panggang dari api.

Yang Dilakuin PGRI

PGRI sadar akan kondisi ini. Mereka lagi dorong RUU Perlindungan Guru . Alasannya: guru rawan dikriminalisasi. Banyak kasus guru dilaporkan karena menghukum murid. Atau dipukuli murid. Atau diancam orang tua .

Tapi yang gue tangkep dari wacana ini: guru butuh dilindungi. Dari kriminalisasi, dari intimidasi, dari tekanan.

Tapi kalo dari kemiskinan? Dari gaji murah? Dari korupsi yang merugikan mereka?

Nggak ada RUU yang bisa lindungin guru dari rasa lapar.


3 Hal yang Bisa Dilakuin Guru Honorer (Meski Pahit)

Buat lo yang jadi guru honorer dan baca ini, gue kasih beberapa tips praktis. Pahit, tapi realistis:

1. Jangan Gantungin Hidup Cuma dari Gaji

Ini saran tersedih, tapi paling realistis. Kalo lo cuma ngandelin Rp400 ribu, lo nggak akan bisa hidup. Cari penghasilan tambahan. Buka les privat. Jualan online. Jadi konten kreator edukasi. Manfaatin skill lo.

Banyak kok guru honorer yang sukses di luar. Mereka punya usaha sampingan yang jalan sambil ngajar. Pelan-pelan tapi pasti.

2. Ikut Seleksi PPPK Terus, Jangan Nyerah

Setiap tahun ada seleksi PPPK. Lo mungkin gagal berkali-kali. Tapi jangan berhenti. Nilai lo mungkin kurang, pengalaman lo mungkin dianggap nggak cocok, atau mungkin ada “orang dalam”. Tapi kalo lo berhenti, lo nggak akan pernah jadi PNS.

Terus belajar. Ikut pelatihan. Perbaiki administrasi. Siapa tahu tahun ini rezeki lo.

3. Jalin Komunikasi dengan Orang Tua Murid

Orang tua murid bisa jadi sekutu. Kalo mereka puas sama kinerja lo, mereka bisa bantu dalam banyak hal. Bisa kasih les tambahan ke anak mereka (dibayar). Bisa bantu promosiin les privat lo. Bisa jadi relasi buat usaha sampingan.

Jangan musuhin orang tua. Rangkul mereka.


3 Kesalahan Umum Netizen Ngebahas Kasus Ini

1. “Guru Honorer mah Goblok, Mau aja Dibayar Murah!”

Ini komentar paling menyebalkan. Guru honorer bertahan bukan karena mereka goblok. Tapi karena mereka peduli sama murid. Mereka takut kalo berhenti, anak-anak nggak diajar. Mereka ngorbanin diri buat generasi.

Jangan hina mereka. Hina sistem yang ngebiarin mereka diperlakukan kayak gini.

2. “Korupsi Dikit Gapapa, Yang Penting Sekolah Jalan”

Ini pembelaan nggak jelas. Korupsi Rp1,4 miliar itu “dikit”? Coba tanya guru honorer yang gajinya Rp400 ribu. Buat mereka, itu uang 300 tahun kerja. Nggak ada istilah “dikit” dalam korupsi.

3. “Ya Udah, Pilih Pemimpin yang Pro-Pendidikan!”

Pemilu udah berkali-kali. Presiden udah berganti. Tapi nasib guru honorer? Nggak berubah banyak. Jangan cuma nyalahin pemimpin. Tuntut sistem yang bener. Tuntut pengawasan yang ketat. Tuntut penegakan hukum yang tegas.


Kesimpulan: Jangan Dukung Koruptor Pendidikan

Gue tutup dengan pesan sederhana.

Kasus korupsi kepala sekolah kayak di Nias Selatan ini bukan sekadar berita kriminal. Ini tamparan buat kita semua. Ini bukti bahwa pendidikan belum jadi prioritas.

Uang rakyat yang dikorupsi itu adalah buku yang nggak kebeli. Itu meja yang nggak terganti. Itu guru honorer yang nggak bisa sejahtera. Itu murid yang masa depannya terhambat.

Jangan pernah dukung siapapun yang terlibat korupsi pendidikan. Jangan pernah pilih pemimpin yang lalai mengawasi dana sekolah. Jangan pernah diam kalo tahu ada penyimpangan.

Karena pada akhirnya, yang rugi bukan cuma negara. Tapi anak-anak kita. Adik-adik kita. Generasi penerus bangsa.

Mereka berhak dapat pendidikan layak. Mereka berhak punya guru yang sejahtera. Mereka berhak tumbuh di lingkungan yang jujur.

Dan itu tanggung jawab kita semua.

Anda mungkin juga suka...