GIHES 2026: Gontor Ajak Dunia Belajar dari Pesantren untuk Lawan Krisis Mental Remaja
Uncategorized

GIHES 2026: Gontor Ajak Dunia Belajar dari Pesantren untuk Lawan Krisis Mental Remaja

Pernah nggak sih lo kepikiran, kenapa anak-anak jaman sekarang kok mentalnya kayak “stroberi”? Gampang banget remuk, stres, depresi. Padahal fasilitas serba ada, informasi gampang diakses. Tapi justru di situlah masalahnya. Dunia modern yang serba instan ini ternyata bikin generasi muda kehilangan “tulang punggung” mentalnya. Krisis kesehatan mental remaja udah jadi isu global, bukan cuma di Indonesia. Dan menariknya, saat dunia Barat sibuk nyari solusi, ada satu model pendidikan yang udah mempraktikkan “obat”nya selama berabad-abad: pesantren. Gila, kan?

Nah, di sinilah GIHES 2026—Global Islamic Holistic Education Summit—masuk sebagai game changer. Forum internasional yang digagas Pondok Modern Darussalam Gontor ini bukan sekadar konferensi biasa. Ini adalah momen pembalikan narasi. Selama ini, pesantren sering dianggap “kuno”, “eksklusif”, atau bahkan “terbelakang”. Tapi melalui GIHES, Gontor justru mengajak dunia belajar dari pesantren untuk lawan krisis mental remaja. Konsep pendidikan holistik yang udah dipraktikkan di pesantren selama puluhan tahun, ternyata relevan banget buat menjawab tantangan abad 21. Dan kabar baiknya, ini bukan cuma wacana. Ini udah mulai diakui secara global.


Sebentar, Apa Itu GIHES 2026?

Oke, gue jelasin dulu biar pada paham. GIHES 2026 adalah forum pendidikan Islam berskala internasional yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor . Acaranya bakal digelar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada 5-6 September 2026 . Ini kolaborasi antara Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, dan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) .

Tapi, kenapa sih Gontor bikin acara sebesar ini? Rektor UNIDA Gontor, Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi, bilang: “GIHES adalah respons strategis terhadap krisis pendidikan modern yang kian mengkhawatirkan” . Intinya, Gontor melihat bahwa pendidikan modern—yang cuma fokus pada nilai akademis dan IQ—ternyata gagal mencetak generasi yang tangguh mental. Banyak generasi muda yang “rapuh secara mental, kesulitan berkolaborasi, tidak punya etos kerja, dan lemah dalam kepemimpinan” .

Fakta Angkanya Ngeri, Beneran!

Nah, ini dia yang bikin kita harus merhatiin serius. Data WHO dan UNICEF (2024) nyebutin satu dari tujuh remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental . Satu dari tujuh! Bayangin, dalam satu kelas yang isinya 35 anak, sekitar 5 orang di antaranya berjuang melawan kecemasan, depresi, atau gangguan mental lainnya. Di Indonesia sendiri, survei I-NAMHS 2022 nyebut satu dari tiga remaja punya masalah kesehatan mental .

Ditambah lagi, World Economic Forum memproyeksikan bahwa 39 persen keterampilan inti saat ini bakal usang pada tahun 2030 . Artinya, yang dibutuhkan ke depan bukan cuma orang pinter secara akademis, tapi juga orang yang punya kemampuan analitis, resiliensi, kepemimpinan, dan empati. Ini semua adalah kompetensi non-teknis yang cuma bisa dibangun lewat pendidikan karakter . Terus, jawabannya apa?

Konsep yang Selama Ini Diabaikan: Pendidikan Holistik Pesantren

Di sinilah pesantren menunjukkan “giginya”. Gontor dengan pede bilang bahwa pendidikan holistik yang sejati itu udah lama dipraktikkan di pesantren. “Di pesantren, selama 24 jam penuh santri dibina mental, moral, dan soft skill-nya” . Nggak cuma belajar kitab kuning, mereka juga dididik disiplin, kepemimpinan, organisasi, sampai pengabdian masyarakat . Jadi, bukan cuma “sekolah”, tapi “school of life” .

Yang menarik, konsep holistic education sebenarnya udah digagas di Barat. Tapi, menurut Prof. Hamid, konsep itu nggak pernah benar-benar diimplementasikan secara utuh oleh lembaga pendidikan mana pun di luar sana . Jadi, GIHES ini hadir buat menggali, merumuskan, dan mengartikulasikan aspek-aspek holistik dari pendidikan Islam, khususnya pesantren modern, biar bisa diadopsi secara lebih luas di tingkat internasional .

Bukti Nyata: Mulai Dilirik Dunia

Nggak cuma omongan doang, loh. GIHES 2026 ini serius. Mereka mengundang pembicara dari lima benua . Ada Prof. Nuri Tinaz dari Turki, Dr. Mahamood Shihab dari India, Prof. Ryoko Tsuneyoshi dari Jepang (yang akan membandingkan konsep Tokkatsu Jepang dengan sistem asrama Islam), dan masih banyak lagi . Dari dalam negeri, ada Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang juga ikut serta .

Dukungan juga datang dari tokoh senior. Jusuf Kalla (JK) secara tegas mendukung GIHES. Beliau bilang, “Saya mendukung acara GIHES. Gontor berpikir untuk ke depan, 100 tahun ke depan,” . JK bahkan menilai ini baru pertama kali di Indonesia lembaga pendidikan memikirkan arah pendidikan dalam rentang waktu sepanjang itu . Ini bukan sekadar acara seremonial, ini adalah gerakan pendidikan jangka panjang.

Dampak yang Lebih Besar: Dari Lokal ke Global

Fenomena GIHES ini penting banget karena setidaknya tiga alasan:

  1. Mengubah Narasi tentang Pesantren. Selama ini, pesantren sering dipandang sebelah mata. Tapi dengan GIHES, pesantren ditampilkan sebagai solusi global. Ini adalah “momentum penting bagi dunia Islam untuk menawarkan model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, melainkan pada kematangan karakter, spiritualitas, dan ketangguhan mental” .
  2. Menjawab Krisis Global. Data WHO dan UNICEF udah jelas. Dunia butuh solusi. Gontor menawarkan konsep yang udah teruji. “Di saat dunia Barat baru sibuk mendiskusikan konsep ‘well-being’ dan pembentukan karakter untuk mengatasi krisis mental remaja, pesantren di Indonesia sudah mempraktikkannya selama berabad-abad melalui integrasi ilmu, adab, dan spiritualitas,” tegas Prof. Hamid .
  3. Membangun Ekosistem Pendidikan Berkelanjutan. GIHES nggak berhenti di diskusi. Tujuannya adalah menghasilkan “Deklarasi GIHES” sebagai warisan intelektual bersama dan komitmen kolektif . Ini adalah peta jalan pendidikan untuk 100 tahun ke depan .

Tips: Gimana Kita Bisa Ikut “Belajar dari Pesantren”?

Nah, buat lo yang mungkin bukan pengurus pesantren atau akademisi, tapi peduli sama pendidikan dan kesehatan mental, lo tetap bisa ambil pelajaran dari konsep GIHES ini.

  1. Terapkan “Disiplin 24 Jam” dalam Skala Kecil. Lo nggak perlu jadi santri buat hidup disiplin. Coba bikin rutinitas harian yang seimbang antara belajar/kerja, ibadah, olahraga, dan istirahat. Kuncinya adalah konsistensi.
  2. Bangun “Komunitas” yang Suportif. Di pesantren, ada sistem peer support (konselor sebaya). Di kehidupan sehari-hari, cari teman atau komunitas yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan cuma buat senang-senang .
  3. Fokus pada “Kepemimpinan” dan “Pelayanan”. Santri dididik untuk menjadi pemimpin dan melayani masyarakat. Lo juga bisa mulai dengan hal kecil: ikut kegiatan sosial, jadi relawan, atau bantu orang lain. Ini terbukti bisa meningkatkan rasa bermakna dan mengurangi stres.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  1. Menganggap Kesehatan Mental Itu “Aib”. Ini masih jadi masalah besar di banyak kalangan, termasuk di pesantren. Padahal, isu ini harus dibuka dan didiskusikan secara sehat .
  2. Menyederhanakan Solusi. “Ya udah, bikin anak sibuk ngaji aja.” Nggak, mental health itu kompleks. Butuh pendekatan yang holistik: spiritual, psikologis, sosial, dan fisik.
  3. Merasa “Sudah Tahu” Padahal Belum. Banyak yang menganggap pendidikan holistik di pesantren cuma “omongan lama”. Padahal, Gontor justru ngeliat ini sebagai inovasi yang relevan untuk masa depan. “Jangan anggap remeh, karena dunia justru lagi butuh model kayak gini” .

Penutup: Ini Baru Awal

GIHES 2026 bukanlah akhir, tapi awal dari sebuah perjalanan besar. Ini adalah saatnya Indonesia, khususnya pesantren, menunjukkan diri sebagai pemikir global dalam dunia pendidikan. Pesantren bukan lagi sekadar tempat nyantri, tapi laboratorium kehidupan yang siap menginspirasi dunia. .

Gontor melalui GIHES udah ngasih sinyal kuat: krisis mental global bisa dijawab dengan kembali ke esensi pendidikan yang menyentuh hati, kepala, dan tangan. Sekarang, tinggal kita yang mau menyambut dan mengimplementasikan gagasan ini atau nggak. Karena pada akhirnya, masa depan generasi muda bukan cuma tanggung jawab sekolah atau pesantren, tapi tanggung jawab kita semua.

Anda mungkin juga suka...